1. Bila indeks Dow Jones hijau, Hangseng juga hijau, maka IHSG berpotensi kuat untuk hijau pula
IHSG umumnya selalu mengikuti tren indeks global dan regional. Artinya, jika indeks global dan regional seperti lapangan bola (hijau semua), maka IHSG berpotensi untuk hijau pula. Hijau berarti harga saham naik (bullish), merah berarti harga saham turun (bearish). Walau kadang -kadang IHSG memang bergerak anomali melawan tren bursa regional
2. Penawaran saham perdana IPO (initial public offering) selalu mendongkrak harga saham
Pasar selalu merespon antusias peluncuran saham perdana IPO big caps atau medium caps. Seminggu setelah IPO saham mid caps biasanya akan terkoreksi akibat aksi profit taking. Saham IPO big caps layak dikoleksi dalam waktu lama, sedangkan saham IPO mid caps simpan kurang dari seminggu.
3. Always sell on Friday
Bukan karena persepsi bahwa Jumat adalah horror day hingga membuat Anda ketakutan dan menjual saham-saham yang dimiliki. Jumat adalah hari yang tepat untuk melepas saham oleh karena esoknya, hari Sabtu dan Minggu adalah hari libur bursa. Dan hari libur adalah hari yang penuh tanda tanya. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Kemungkinan-kemungkinan tersebut sangat mampu mempengaruhi bursa saham.
4. Menjelang libur panjang
Sama seperti Jumat yang menjadi awal ketidakpastian oleh karena liburnya bursa, begitu pula saat menjelang libur panjang seperti libur lebaran, liburan akhir tahun dan libur-libur lain. Saat-saat seperti ini para emiten atau market maker biasanya secara bertahap mengerek harga saham ke level yang lebih tinggi, untuk mengantisipasi kejatuhan paska libur berakhir. Sebaiknya Anda turut melakukan profit taking pada hari terakhir menjelang libur panjang.
5. Big Caps akan buy back
Maksudnya big caps yang melakukan buy back (membeli kembali saham yang beredar) untuk mengurangi jumlah saham mereka yang beredar di pasar dan harga sahamnya berpotensi terdilusi semakin tinggi. Maka saham big caps dan mid caps layak dikoleksi saat rumor mulai beredar atau menjelang pelaksanaan buy back.
6. PER big caps di bawah rata-rata industri
Nilai PER big caps atau mid caps yang masih rendah di bawah rata rata industri menjadi sangat layak untuk anda koleksi. Saham ini hanya menanti trigger untuk segera melesat. Yang layak dikoleksi adalah saham big caps.
7. Emiten pengendali harga global
Emiten yang menjadi pengendali harga sebuah komoditas atau hasil bumi, sensitif terhadap permintaan harga, kebijakan distribusi, izin eksplorasi, quota ekspor, dan lain sebagainya, sangat potensial untuk dikoleksi saat harga dari komoditas yang dikendalikannya sedang naik dan bergairah.
8. Harga minyak dunia bergerak naik, diikuti naiknya harga komoditas batu bara, gas, dan CPO
Bila harga energi dunia dan komoditas meningkat, maka harga saham emiten berbasis sumber daya alam, migas dan perkebunan kelapa sawit akan terus terkerek naik. Emiten bidang ini antara lain BUMI, ANTM, ADRO, MEDC, INCO, Gas Negara (PGAS), Astra Agro (AALI), Sampoerna Agro (SGRO)
9. Melirik stock split
Saham big caps berfundamental bagus yang distock split sangat layak dilirik. Setelah stock split biasanya harga saham akan naik. Akan tetapi berhati-hatilahlah terhadap rumor stock split saham abal-abal untuk mengelabui investor.
10. Right Issue akan membuat harga saham terdilusi
Penerbitkan saham baru akan menyebabkan jumlah saham yang beredar semakin besar membuat harga saham tersebut terdilusi. Para investor kurang meminati right issue dan cenderung menjual sahamnya sebelum terjadi right issue. Sebaiknya Anda pun menjual saham saat mulai mendengar rumor tersebut dan menunda membeli hingga right issue telah selesai.
11. Stock Reverse saham 50 perak, hati hati
Aturan terbaru Bappepam adalah harga saham serendahnya senilai lima puluh perak (Rp.50). Dan agar saham tidur itu segera bangun dari tidurnya, kalau tidak mau kena sanksi delisting oleh otoritas bursa. Namun , anda jangan tergoda dengan murahnya harga saham lima puluh perak tersebut karena mungkin anda berpikir harganya tidak mungkin turun lagi karena sudah mentok, dan hanya menunggu harga bergerak naik. Namun anda harus hati hati dengan adanya aksi stock reverse.
Anda memiliki saham NGAWUR pada harga Rp 50, dan emiten melakukan stock reverse 10:1 artinya, setiap 10 lembar saham yang anda miliki akan berubah menjadi hanya 1 lembar saja, dengan konsekuensi harga saham tersebut berubah harganya jadi 10 kali lebih besar menjadi Rp 500. Persoalannya adalah harga saham tersebut biasanya akan terkoreksi kembali ke harga lima puluh perak. Maka sebainya Anda jangan tergoda.
12. Waspada rumor akusisi
Strategi bandar menggoreng saham salah satunya adalah dengan cara meniupkan rumor akuisisi. Masuknya investor asing hendak mengakuisisi sebuah emiten, akan mendongkrak harga saham karena akan mendapatkan sumber dana dan manajemen baru. Namun seringkali rumor akusisi hanya isapan jempol yang membuat investor meradang karena keburu mengkoleksi saham.
Namun apabila emiten big caps hendak mengakuisisi emiten big caps lain dengan alasan meningkatkan efisiensi akan menjadi good news. Maka ini adalah isu bagus, oleh karenanya investor harus benar benar mencermati alasan akuisisi.
13. Saham big caps koreksi menyentuh level support (5 hingga 15 persen)
Aksi profit taking akan mengkoreksi harga. Apabila saham big caps terkoreksi cukup dalam menyentuh level support atau terkoreksi 5 hingga 15 persen, hampir pasti harga akan rebound (mental kembali). Maka Anda harus membeli saham big caps saat harganya sedang murah.
14. Selalu pantau volume transaksi
Dengan selalu memantau volume transaksi Anda akan dapat memprediksi apakah sebuah tren akan berlanjut atau malah berbalik arah. Pada saat volume transaksi tinggi, harga akan cenderung naik. Dan apabila transaksi volume naik secara drastis bisa menjadi sinyal bahwa akan terjadi pembalikan tren, panic buying. Meskipun tetap harus waspada.
15. Rajin membagi dividen
Koleksilah saham-saham big caps yang rajin membagi deviden. Biasanya perusahaan BUMN sangat rajin membagi deviden setidaknya tiga kali dalam setahun.
16. Good news for new contract
Bila emiten big caps melakukan kerjasama atau kontrak dengan emiten lain untuk memasok produknya dalam jangka waktu panjang, akan menjadi signal positif bagi harga sahamnya.
17. “January effect”
Para fund manager, reksadana, investor kakap, investor sejati biasanya mulai mereposisi portofolionya untuk setahun ke depan.
Berita terkait:







