
Maket Menara Jakarta
Perguruan tinggi di Indonesia dengan fakultas tekniknya dipandang belum mampu memenuhi kebutuhan insinyur atau sarjana teknik untuk pembangunan nasional. Hal tersebut disampaikan Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, di mana menurutnya hal tersebut bisa menjadi penghambat Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Hatta menjelaskan, saat ini kekurangan insinyur dari berbagai disiplin ilmu teknik mencapai 5.000 orang, yang akan semakin meningkat hingga 25.000 orang pada 2025 nanti, apabila tidak dilakukan terobosan pada sistem pendidikan tinggi yang berlangsung saat ini. Kelangkaan insinyur merupakan ancaman bagi kelangsungan program MP3EI yang meliputi ribuan proyek.
Berdasarkan identifikasi KP3EI per 10 Mei 2012, seperti yang dilansir bisnis, total indikasi investasi di enam koridor ekonomi sampai dengan 2014 mencapai Rp 4.934,8 triliun. Nilai investasi ini mencakup 725 proyek sektor riil senilai Rp 2.557,5 triliun, 866 proyek infrastruktur senilai Rp 2.372,9 triliun, serta 3.041 proyek SDM dan Iptek senilai Rp 4,4 triliun.
Menanggapi hal tersebut, Mendikbud, Muhammad Nuh mengungkapkan bahwa pada 2015 nanti pemerintah menargetkan kenaikan persentase kelulusan sarjana teknik pada perguruan tinggi rata-rata 15%. Saat ini kemampuan perguruan tinggi dalam menghasilkan sarjana teknik baru sebesar 11% dari total kelulusan perguruan tinggi. Sementara perguruan tinggi di negara-negara maju menghasilkan output sarjana teknik rata-rata 20% dari total kelulusan.
Dalam mengatasi kelangkaan sarjana teknik, pemerintah menyiapkan tiga skenario, papar Muhammd Nuh. Pertama, dengan melakukan ekspansi kapasitas, yakni menambah jumlah fakultas dan jumlah jurusan teknik. Kedua, mengonversi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk menjadi PTN. Ketiga, dengan menambah jumlah institut teknologi yang akan disebar di pulau-pulau besar di Indonesia.
Berita terkait:







