Kesuksesan sebuah langkah investasi ditentukan pada ketepatan memilih strategi yang terbaik. Investasi sendiri bisa dilakukan lewat berbagai cara, bisa dengan melakukannya sendiri atau melalui perusahaan sekuritas, atau pula perusahaan jasa keuangan/investasi lainnya.
Ada dua strategi investasi yang paling umum dilakukan, yakni ‘Buy and Hold’ dan ‘Market Timing’.
Buy and Hold adalah membeli beberapa pilihan produk investasi kemudian memegangnya untuk jangka waktu lama dengan harapan semoga keajaiban bunga majemuk (the magic of compound interest) bisa terjadi, sehingga keuntungan yang besar yang telah lama dinanti bisa diperoleh.
Cara yang kedua yaitu market timing (MT) dimana para pendukungnya tidak setuju dengan argumentasi buy-and-hold (BAH). Menurut kubu MT, justru investor bisa dirugikan bila tidak memanfaatkan gejolak harga (volatility). Pendukung MT lebih cenderung untuk mengambil keuntungan dari perubahan harga di pasar. Membeli saat harga sedang turun dan menjualnya ketika naik (buy low sell high). Dengan melakukan hal tersebut investor akan mendapatkan keuntungan maksimal dari investasi. Strategi market timing yang akurat memang menjanjikan keuntungan yang luar biasa.
Profesor Robert Merton, pemenang Hadiah Nobel Ekonomi 1997, melakukan penelitian tiga strategi investasi menggunakan data bursa saham New York pada periode 1 Januari 1927 – 31 Desember 1978. Ketiga strategi ini dimulai dengan modal awal US$ 1000. Strategi pertama, sebut saja strategi deposito, adalah investasi dalam surat berharga jangka pendek 1 bulan (misalnya commercial paper atau T-Bill) kemudian pokok dan bunganya di-rollover tiap awal bulan.
Strategi kedua, disebut strategi beli dan tahan (buy-and-hold) adalah investasi di bursa saham (diwakili indeks bursa saham New York) terus menerus (capital gain dan dividen yang diperoleh diinvestasikan lagi setiap awal bulannya) selama 52 tahun tersebut.
Strategi ketiga adalah strategi market timing sempurna. Strategi yang terakhir ini mengasumsikan investor setiap awal bulan mampu memprediksi- dengan tepat apakah indeks saham akan naik untuk 30 hari ke depan. Jika prediksinya mengatakan indeks saham akan turun, maka seluruh investasi pada bulan itu akan ditaruh ke deposito. Bulan berikutnya, prediksi serupa akan dibuat. Jika indeks saham diprediksi akan naik, dana portfolio yang ada akan disimpan dalam saham. Begitu seterusnya selama 52 tahun.
Untuk strategi pertama, uang si investor ternyata hanya berkembang menjadi US$ 3600. Untuk strategi kedua, uang si investor berkembang lebih dari 60 kali lipat menjadi US$ 67.500. Yang menarik adalah hasil strategi ketiga. Umumnya perkiraan banyak orang adalah berkisar antara ratusan ribu dolar sampai puluhan juta dolar. Tetapi berapa tebakan anda hasil dari strategi ketiga? Jawaban yang tepat adalah sangat mengagetkan, US$ 5,36 miliar.
Tertarik dengan penelitian profesor yang memenangkan Nobel Ekonomi pada 1997 itu, di Indonesia Roy Sembel mengujinya di BEI (BEJ kala itu) pada periode Januari 1988-Maret 1998 (10 tahun 3 bulan) dengan modal Rp1 juta dan mendapatkan hasil yang hampir sama untuk strategi market timing. Uang Rp1 juta itu menjadi Rp6,24 juta dengan strategi pertama, Rp6,56 juta untuk strategi kedua, dan Rp454,96 juta dengan strategi market timing sempurna.
Jadi, logika buy low sell high memang masuk akal. Investor pasti akan untung dengan membeli di harga terendah dan menjualnya di harga tertinggi. Yang menjadi masalah apakah waktu beli yang ditetapkan akan selalu tepat saat harga berada pada level terendah dan waktu jual saat harga berada pada level tertinggi?
“Dollar Cost Averaging”
Perencanaan keuangan keluarga adalah perencanaan yang berkesinambungan. Diharuskan berdisiplin dengan motivasi yang kuat guna mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan mengetahui pasti jumlah pendapatan yang diperoleh setiap bulan, sangat dianjurkan bagi keluarga untuk memulai menyisihkan dana untuk tujuan investasi sedini mungkin. Penempatan dan alokasi dana untuk investasi dapat dilakukan secara rutin setiap bulan sesuai kesanggupan keuangannya. Pola investasi ini biasa disebut dengan dollar cost averaging (DCA).
Berikut ini ilustrasi DCA untuk penempatan dana di bursa saham. Konsep DCA sangat terkait dengan diversifikasi. Para investor di bursa saham umumnya berdiversifikasi dengan menanamkan uang tidak hanya pada satu saham, tapi menyebarkannya pada banyak saham di pelbagai sektor. Implikasinya adalah apabila satu sektor sedang lesu, mungkin sektor lain bisa mengkompensasinya.
Strategi yang lebih menghasilkan untung lagi adalah kalau kita tahu pasti kapan pasar akan naik dan kapan pasar akan turun. Tetapi itu adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan dan seringkali menimbulkan penyesalan jika dilakukan terburu-buru.
Sehingga alternatif konservatif untuk menghindari penyesalan itu adalah dengan menginvestasikan uang Anda secara bertahap, misalnya Rp 50 juta tiap bulan selama 10 bulan. Sambil menunggu, uang yang belum diinvestasi bisa dititip di broker misalnya dengan bunga setingkat bunga deposito. Dengan cara seperti itu, bila pasar masih menurun Anda tak akan terlalu menyesal masuk saat pasar masih relatif tinggi. Serupa dengan itu, bila pasar mulai meningkat, Anda juga tak terlalu menyesal terlambat masuk pasar.
DCA juga berlaku bila Anda berencana menginvestasikan sebagian penghasilan Anda setiap bulan secara teratur. Untuk investasi yang relatif sedikit, Anda dianjurkan menggunakan sarana investasi reksadana. Dengan menggunakan reksadana, investasi Anda telah terdiversifikasi dalam banyak saham yang dimiliki oleh reksadana itu.
Dengan penghasilan yang terbatas, maka Anda harus dapat secara rutin melakukan penyisihan uang untuk investasi dari keterbatasan itu. Metode ini dapat menjadi alternatif terbaik bagi keluarga saat ini.
Selamat berinvestasi.
Berita terkait:







