Arsip : Afrika Selatan

AS Bebaskan 7 Negara Dari Sanksi Impor Minyak Iran

3:43 pm in AS, Berita, Highlight by Ririen Restya Sagita

Kapal Pengangkut Minyak

Pemerintah Amerika Serikat kembali membebaskan 7 negara dari ancaman sanksi yang akan dijatuhkan apabila melakukan transaksi minyak dengan Iran.

Ketujuh negara yang dibebaskan oleh pemerintah AS adalah Malaysia, Taiwan, Sri Lanka, India, Korea Selatan, Turki, dan Afrika Selatan. Menurut AS, ketujuh negara tersebut telah membuktikan bahwa negaranya berupaya mengurangi impor minyak dari Iran secara drastis.

Sebelumnya, AS memaksa seluruh negara di berbagai belahan dunia untuk mengurangi atau menghentikan impor minyak dari Iran. AS berpendapat langkah tersebut dilakukan untuk menghentikan proyek nuklir yang tengah dijalankan oleh Iran meski sebelumnya pemerintah Iran telah menegaskan bahwa proyek nuklirnya dijalankan hanya untuk kepentingan sipil.

AS mengancam akan memutuskan hubungan bisnis dengan bank dari negara yang gagal mengurangi impor minyak dari Iran secara signifikan. Sebelumnya, negeri Paman Sam tersebut telah membebaskan Jepang dan 10 negara Eropa dari sanksi tersebut karena telah menunjukkan upaya untuk mengurangi impor minyak dari Iran. Sementara itu, Cina, Singapura, bahkan Indonesia belum dibebaskan dari ancaman sanksi tersebut.

via Bloomberg : U.S. Exempts India, South Korea, From Iran Oil Sanctions

McDonald’s Alami Penurunan Penjualan Terbesar Sejak 2004

1:21 pm in AS, Berita by Ririen Restya Sagita

Restoran McDonald's

Perusahaan restoran cepat saji asal Amerika Serikat, McDonald’s Corp, mengalami penurunan penjualan terbesar sejak tahun 2004 lalu.

Angka penjualan McDonald’s menurun sebesar 1,4% di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, serta Afrika Selatan. Sebelumnya, para analis memprediksi bahwa McDonald’s akan mampu meraih kenaikan penjualan sebesar 3,2%.

Kemerosotan yang dialami McDonald’s disebabkan oleh melemahnya pertumbuhan ekonomi Cina dalam beberapa bulan terakhir. Tahun ini, negara tersebut hanya menargetkan petumbuhan ekonomi sebesar 7,5%, terendah sejak tahun 2004.

Don Thompson selaku calon CEO McDonald’s yang akan menduduki jabatan mulai bulan Juli mendatang menyatakan bahwa McDonald’s tengah menghadapi tantangan dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi Cina. Pasalnya, negara tersebut merupakan salah satu sumber penghasilan utama McDonald’s yang memiliki sekitar 1.500 restoran di Cina.

Sama halnya dengan McDonald’s, melemahnya kondisi perekonomian Cina merupakan kabar buruk bagi Yum! Brands Inc yang memiliki label KFC dan Pizza Hut. Saat ini, perusahaan tersebut telah memiliki 4.600 restoran cepat saji di Cina yang menghasilkan sekitar 44% dari total pendapatan tahunan Yum! Brands.

via Bloomberg : McDonald’s Sales Drop In Asia Signals Fast-Food Slowdown

Toyota Targetkan Penjualan ‘IMV’ Sebanyak 1 Juta Unit

2:26 pm in Asia, Berita by Ririen Restya Sagita

Toyota Fortuner

Toyota Motor Corp mengumumkan target penjualan Kendaraan Multi-Fungsi Internasional (International Multi-Purpose Vehicle/IMV) sebanyak 1 juta unit pada tahun ini.

Target yang dipasang Toyota tahun ini lebih tinggi dari rekor penjualan IMV Toyota pada tahun 2010 sebesar 800.000 kendaraan. Penjualan IMV di tahun 2011 merosot akibat berbagai faktor seperti gempa Jepang, banjir Thailand, dan tingginya nilai tukar yen.

Dengan menaikkan target penjualan IMV, Toyota bermaksud meningkatkan porsi penjualan di negara-negara berkembang dari 40% menjadi 50% pada tahun 2015 mendatang. Produksi IMV sendiri memang dilakukan di negara-negara berkembang seperti Indonesia, Argentina, dan Afrika Selatan.

IMV merupakan julukan yang diberikan Toyota untuk kendaraan multi fungsi seperti minivan, SUV, dan truk pickup yang berasal dari satu kerangka yang sama. Beberapa jenis mobil Toyota yang termasuk IMV adalah Kijang Innova, Fortuner, serta Hillux.

via The Wall Street Journal : Toyota Goes for Growth with ‘IMVs’ in Emerging Markets

Singapura Tercatat Sebagai Negara Paling Tak Sehat di Dunia

2:02 pm in Asia, Berita, Highlight by Ririen Restya Sagita

Pemandangan Kaki Langit Singapura

Singapura selama ini dikenal sebagai negara bersih karena aturan ketat yang diberlakukan oleh pemerintahnya. Setiap orang yang membuang sampah sembarangan atau mengeluarkan polusi berlebihan di negara tersebut akan mendapat denda yang cukup besar.

Namun ternyata, hasil riset yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas British Columbia menunjukkan bahwa Singapura merupakan negara paling tak sehat secara ekonomi dan ekologi.

Negara tersebut menempati urutan terakhir dari 150 negara yang diteliti dalam hal kesehatan ekonomi dan ekologi. Berdasarkan keterangan para tim peneliti, Singapura memiliki kesiapan paling buruk dalam menyediakan makanan, minuman, lahan, sumber energi serta keuangan bagi generasi yang akan datang.

Sebagai negara dengan luas lahan yang sangat kecil, Singapura memang tidak memiliki banyak sumber daya alam. Kebanyakan penduduk Singapura harus tinggal di apartemen atau tempat tinggal bertingkat lainnya untuk menghemat lahan. Singapura bahkan harus mendapat pasokan air dari Malaysia untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi penduduknya.

Sementara itu, Indonesia menempati urutan ke 46 dari keseluruhan 150 negara. Indonesia dinilai masih sangat kaya akan sumber daya alam untuk mencukupi kebutuhan generasi penerusnya.

Di lain pihak, Timor-Leste secara mengejutkan menempati posisi pertama sebagai negara terkaya secara ekonomi dan ekologi. Negara besar yang mampu menempati posisi 10 besar dalam daftar tersebut hanyalah Afrika Selatan, Argentina dan Brazil.

via The Wall Street Journal : Singapore: The World’s “Unhealthiest” Country?

Pakta Kyoto Berisi Pengurangan Emisi CO2 Akan Diperpanjang

10:44 am in Berita, Internasional by Ririen Restya Sagita

Negara-negara yang menyetujui Protokol Kyoto (warna hijau)

Pakta Kyoto atau Protokol Kyoto, berisi peraturan bagi sekitar 174 negara yang menandatangani protokol untuk mengurangi emisi gas CO2 dalam upaya menangani pemanasan global, akan segera berakhir pada tahun 2012.

Untuk itu, perwakilan dari 174 negara tersebut sedang berkumpul di Durban, Afrika Selatan, untuk menghadiri KTT Perubahan Iklim untuk membahas penanganan pemanasan global secara efektif. Kini, mereka merencanakan untuk memperpanjang Protokol Kyoto tersebut.

China, India, dan negara-negara berkembang lainnya termasuk ke dalam kelompok yang memaksa agar Protokol Kyoto diperpanjang. Sementara itu Kanada, Rusia, dan Jepang secara terang-terangan menolak dan menyatakan bahwa tidak ada kewajiban lagi bagi mereka untuk menuruti peraturan jika protokol itu benar-benar diperpanjang.

Meski ketiga negara tersebut menolak, Protokol Kyoto sepertinya akan tetap diperpanjang mengingat para petinggi negara tidak memiliki waktu lagi untuk menyusun perjanjian perubahan iklim yang baru.

Konferensi Perubahan Iklim Terganjal Masalah Biaya

11:03 am in Berita, Internasional by Ririen Restya Sagita

Logo Konferensi Perubahan Iklim di Afrika Selatan

Meningkatnya pemanasan global yang mengakibatkan perubahan cuaca dan iklim secara ekstrim membuat perwakilan dari sekitar 192 negara di seluruh dunia ditambah dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat berkumpul di Durban, Afrika Selatan, pada tanggal 28 November – 9 Desember 2011 untuk mengadakan Konferensi Perubahan Iklim.

Awalnya, konferensi tersebut berjalan lancar, namun perbincangan perubahan iklim tersebut menjadi panas ketika PBB mengusulkan dana sebesar US$100 milyar yang dibutuhkan untuk Green Climate Fund dalam rangka menjalankan aksinya memperbaiki kondisi lingkungan global.

Perdebatan berlangsung antara negara industri seperti AS dan negara-negara di Eropa dengan China dan negara-negara berkembang. China beserta negara berkembang lainnya ingin agar negara industri mendanai Green Climate Fund, sementara AS dan negara industri lainnya menolak.

Todd Stern, perwakilan AS, menyatakan bahwa ia mengharapkan China dan negara-negara berkembang ikut berpartisipasi dengan menyumbangkan dana untuk pemulihan iklim mengingat China merupakan penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia.

Jerman Minta China, India, dan Brazil Kurangi Emisi CO2

5:07 pm in Berita, Internasional by Ririen Restya Sagita

Perbedaan Suhu Akibat Pemanasan Global

Kanselir Jerman, Angela Merkel, meminta negara-negara berkembang khususnya China, India, dan Brazil untuk mengurangi emisi gas CO2 di negara masing-masing.

Merkel menyatakan bahwa ketiga negara yang ekonominya tengah berkembang pesat tersebut belum memberikan kontribusi yang cukup untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Tanggal 28 November ini, perwakilan dari 200 negara akan berdatangan ke Afrika Selatan untuk menghadiri KTT Iklim PBB yang akan membahas bertambah parahnya tingkat pemanasan global, faktor-faktor penyebabnya, serta langkah untuk menanggulanginya. Sebelumnya, KTT tersebut diadakan pada tahun 2007 di Bali.

Menurut Organisasi Meteorologi Dunia, emisi gas CO2 serta gas-gas rumah kaca lainnya merupakan penyebab utama pemanasan global yang mencapai tingkat terparah pada tahun 2010 lalu.

Dunia harus bertindak cepat untuk mengatasi masalah tersebut mengingat Protokol Kyoto yang disusun untuk memerintahkan 40 negara industri mengurangi emisinya akan berakhir tahun depan.

Sign in PasarDana.com BETA
Silahkan login pada form dibawah ini. Belum memiliki akun PasarDana.com click here untuk Register!