
Bendera Irak
Pemerintah Irak membuka lowongan kerja bagi masyarakat Indonesia serta memberi kesempatan investasi di bidang energi kepada pemerintah dan pengusaha Indonesia. Hal tersebut disampaikan Deputi Perdana Menteri Bidang Energi Republik Irak, Hussain Ibrahim Saleh Al-Shahristani dalam pertemuannya dengan Wakil Presiden Budiono hari ini (25/5/2012).
Untuk tenaga kerja, Irak membutuhkan tenaga profesional untuk mengisi sektor jasa pendukung seperti konstruksi, keuangan, logistik dan lainnya. Juru bicara Wakil Presiden, Yopie Hidayat menjelaskan, Irak akan menyambut baik perusahaan maupun tenaga kerja Indonesia yang ingin berpartisipasi dalam proses pembangunan negeri itu. Sebagai langkah awalnya, Indonesia-Irak mulai membenahi hambatan yang ada, salah satunya perihal pengurusan visa.
Saat ini Irak yang tercatat sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar keempat dunia, tengah berusaha menggenjot kapasitas produksi minyaknya yang mulai menurun saat terlibat perang dengan tentara Sekutu. Produksi minyak Irak hanya mencapai 2,41 juta barel per hari sejak April 2011, yang anjlok dibanding produksi puncak yang mencapai 3,5 juta barel per hari.
Selain menawarkan investasi di sektor energi, Irak juga menawarkan sejumlah proyek infrastruktur meliputi pembangunan jalan raya, pelabuhan, dan bandara. Deputi PM Irak mengungkapkan bahwa setiap minggu selalu ada proses tender untuk berbagai proyek yang dilakukan secara terbuka dan transparan, dengan proses yang kompetitif. Perusahan-perusahaan asal China, AS, dan Eropa juga telah aktif ikut serta.
Pemerintah Indonesia menyambut baik penawaran Irak tersebut, dan akan menindaklanjutinya dengan menandatangani beberapa MoU dengan Pertamina serta beberapa perusahaan Indonesia.