Arsip : pertambangan

Menteri ESDM: Tak Ada Rencana Untuk Terapkan Pajak Ekspor

4:15 pm in Berita, Nasional by Ririen Restya Sagita

Logo Kementerian ESDM

Setelah mengumumkan rencana untuk mengurangi ekspor batubara tahun ini, Menteri ESDM Jero Wacik menyatakan bahwa pemerintah tak berencana menerapkan pajak ekspor batubara.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Jero Wacik terhadap sejumlah wartawan di Jakarta hari ini (7/6). “Saya harus mengkonfirmasi ke seluruh perusahaan batubara bahwa tidak ada rencana untuk mengenakan pajak ekspor,” terang Jero Wacik kepada wartawan.

Sebelumnya, dalam Konferensi Coaltrans di Bali pada tanggal 4 Juni lalu, Menteri ESDM tersebut menyampaikan bahwa pihaknya ingin mengendalikan ekspor batubara guna menjaga pasokan batubara dalam negeri. Langkah tersebut diambil sehubungan dengan adanya peringatan dari Direktur Eksekutif PLN bahwa kebutuhan batubara Indonesia bisa meningkat hingga 50% dalam jangka waktu 10 tahun.

Terkait pengumuman rencana pengendalian ekspor batubara tersebut, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) meminta pemerintah untuk tidak tergesa-gesa mengumumkan kebijakan yang berpengaruh besar terhadap investasi di bidang pertambangan. Pasalnya, saham 2 produsen batubara besar Indonesia mengalami penurunan hingga 13% setelah rencana tersebut diumumkan.

via Reuters : Indonesia says no plan to tax coal export

Pertumbuhan Ekonomi Australia Meningkat Hingga 1,3%

10:24 am in Berita, Internasional by Ririen Restya Sagita

Kangguru, Hewan Khas Australia

Australia berhasil meraih pertumbuhan ekonomi yang lebih besar dibanding perkiraan para analis sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Australia pada kuartal pertama tahun ini telah mencapai 1,3%.

Jika dibandingkan dengan kuartal pertama tahun lalu, pertumbuhan ekonomi negeri kangguru tersebut tercatat meningkat sebesar 4,3%. Sebelumnya, para analis memperkirakan bahwa Australia hanya akan meraih pertumbuhan sekitar 0,5%.

Menurut seorang analis dari CMC Market, Michael McCarthy, prediksi pengaruh kondisi perekonomian global yang tak stabil terhadap perekonomian Australia sejauh ini terbukti berlebihan.

Di tengah krisis global seperti saat ini, kondisi perekonomian Australia cenderung mengkhawatirkan karena negara tersebut sangat bergantung pada ekspor pertambangan ke berbagai belahan dunia.

Namun, berdasarkan data mengenai Produk Domestik Bruto (PDB) Australia baru-baru ini, perekonomian negeri tersebut juga mulai ditunjang oleh sektor asuransi dan keuangan, layanan teknis dan ilmiah, serta sektor profesional.

Kemarin (5/6), Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia) memutuskan untuk melonggarkan kebijakan fiskal di negaranya dengan menurunkan suku bunga sebesar 0,25% menjadi 3,5%. Pemotongan tersebut dilakukan sehubungan dengan prediksi akan melemahnya pertumbuhan ekonomi Australia.

via BBC News : Australia economy expands more than expected

Karyawan Freeport Rencanakan Aksi Unjuk Rasa Bulan Ini

9:17 am in Berita, Nasional by Ririen Restya Sagita

Tambang Grasberg di Papua

Para karyawan Freeport Indonesia merencanakan untuk melakukan aksi unjuk rasa pada bulan ini sehubungan dengan kasus pemecatan 3 karyawan Freeport dan masalah keamanan di sekitar lingkungan kerja.

Rencana aksi unjuk rasa tersebut disampaikan oleh perwakilan serikat pekerja Freeport kepada Reuters pada hari Jumat (1/6) lalu. Namun, pihak pekerja Freeport menolak untuk menjelaskan rincian dari aksi unjuk rasa yang akan mereka lakukan.

Menurut juru bicara serikat pekerja, Virgo Solossa, 3 orang karyawan Freeport telah diperkarakan ke pengadilan dan dipecat karena terlibat perkelahian beberapa waktu lalu. Sementara itu, para karyawan perusahaan pertambangan tersebut juga mengkhawatirkan keselamatan masing-masing karena banyaknya kasus penembakan yang terjadi di sekitar lingkungan kerja Freeport.

Sejak tahun 2009 lalu, tercatat 15 orang meninggal dan 50 lainnya luka-luka akibat kasus penembakan yang dilakukan oleh kelompok tak dikenal di sekitar lokasi pertambangan yang dilakukan Freeport. Korban meninggal dan luka-luka terdiri dari karyawan dan petugas keamanan Freeport serta beberapa penambang gelap.

via Reuters : Freeport Indonesia workers plan June demonstration

Indonesia Raih Pertumbuhan Ekonomi 6,3%

1:49 pm in Berita, Highlight, Nasional by Ririen Restya Sagita

Kawasan Sentra Bisnis Surabaya

Indonesia berhasil membukukan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3% pada kuartal pertama tahun 2012. Solidnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh tingginya belanja domestik dan investasi asing.

Investasi Asing Langsung (FDI) di Indonesia pada periode Januari-Maret 2012 mengalami peningkatan hingga 30,3% menjadi Rp51,5 triliun. Kenaikan jumlah investasi terbesar terjadi di sektor pertambangan kemudian diikuti oleh sektor transportasi, pergudangan, telekomunikasi, makanan, dan perkebunan.

Sementara itu, laju inflasi mengalami peningkatan sejak awal tahun 2012 hingga bulan April lalu. Salah satu faktor penyebab meningkatnya laju inflasi adalah rencana kenaikan harga BBM bersubsidi pada tanggal 1 April 2012. Meski harga BBM tidak jadi dinaikkan, namun ketidakpastian mengenai kebijakan pemerintah selanjutnya membuat laju inflasi terus menguat.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kali ini cenderung menurun jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Pada periode Oktober-Desember 2012, Indonesia meraih pertumbuhan ekonomi sebesar 6,49%. Sementara itu, pertumbuhan di sektor ekspor mengalami penurunan hingga kurang dari 10% sejak bulan Desember lalu. Padahal, di buklan Juni 2011, sektor ekspor tercatat meningkat hingga 49,1%.

via Bloomberg : Indonesia Economy Expands 6.3% as Investment Counters Europe

Australia Turunkan Prediksi Pertumbuhan Ekonomi

10:59 am in Berita, Internasional by Ririen Restya Sagita

Gedung Parlemen Australia

Bank Sentral Australia (RBA) hari ini (4/5) menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 dari 3,5% menjadi hanya 3%. Penurunan prediksi tersebut diumumkan sehari setelah RBA memotong suku bunga sebesar 0,5%.

Pada hari Rabu (3/5) kemarin, RBA memotong suku bunga dari 4,25% menjadi 3,75% guna mendorong pertumbuhan ekonomi di negerinya. Sebelumnya, para analis memprediksi bahwa RBA hanya akan memotong suku bunga sebesar 0,25%.

Australia memprediksi bahwa pertumbuhan ekonominya akan melemah pada tahun ini sehubungan dengan merosotnya hasil dari sektor pertambangan. Pertumbuhan pada sektor belanja konsumen juga diperkirakan melemah dibanding tahun sebelumnya.

Selain itu, nilai ekspor Australia juga kemungkinan akan menurun sehubungan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi secara global terutama di wilayah Eropa. Menurut RBA, pertumbuhan ekonomi Australia mulai melambat sejak pertengahan tahun lalu dan kemungkinan akan terus melambat pada tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya.

via BBC News : Australia’s central bank lowers its growth forecast

Larangan Ekspor Bijih Besi Diterapkan Mulai 1 Mei 2012

2:10 pm in Berita, Highlight, Nasional by Ririen Restya Sagita

Thamrin Sihite

Pemerintah Indonesia tengah bersiap-siap untuk memberlakukan pelarangan ekspor bijih besi yang belum diproses dari berbagai perusahaan pertambangan.

Menurut Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Thamrin Sihite, mulai tanggal 1 Mei 2012, perusahaan pertambangan akan dilarang melakukan ekspor bijih besi.

Larangan tersebut akan dicabut bagi perusahaan yang menyerahkan proposal untuk membangun usaha pemrosesan dan pemurnian bijih besi di Indonesia. Sejauh ini, Thamrin Sihite menyatakan sudah ada 17 perusahaan yang menyerahkan proposal pembangunan bisnis tersebut.

Peraturan mengenai pelarangan ekspor bijih besi yang belum diproses diharapkan bisa meningkatkan nilai ekspor barang tambang Indonesia. Selama ini, Indonesia terkenal sebagai negara pengekspor barang tambang mentah seperti bijih nikel dan bauksit sedangkan industri pemrosesan barang tambang tersebut dilakukan di luar negeri.

Namun, Asosiasi Pertambangan Indonesia (IMA) berpendapat peraturan tersebut bisa menyebabkan ekspor nikel dan bauksit Indonesia menurun hingga 75%.

via Bloomberg : Indonesia Readies Ban on Unprocessed Metal-Ore Shipments

Pihak Asing Pemilik Tambang Diminta Jual Saham ke Pemerintah

10:24 am in Berita, Highlight, Nasional by Ririen Restya Sagita

Tambang Grasberg Papua

Kepala divisi legal Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Fadli Ibrahim menyatakan bahwa pihak asing pemilik usaha pertambangan di Indonesia kemungkinan akan diminta untuk menjual sahamnya kepada pemerintah.

Hal tersebut dilakukan dalam rangka menerapkan peraturan baru tentang batas kepemilikan tambang oleh pihak asing yang diberlakukan mulai tanggal 21 Februari 2012.

Dalam peraturan tersebut, pihak asing pemegang Izin Usaha Pertambangan hanya boleh memiliki maksimal 49% saham di perusahaan pertambangan yang telah 5 tahun berproduksi. Untuk itu, pemegang IUP asing dengan kepemilikan saham lebih dari 49% harus melepaskan sahamnya secara berkala dalam jangka waktu 10 tahun ke depan.

Menurut Fadli Ibrahim, para investor asing tersebut bisa menawarkan sahamnya ke pemerintah, ke perusahaan pertambangan milik negara, atau ke perusahaan pertambangan swasta di Indonesia. Jika ada lebih dari 1 perusahaan yang berminat, maka bisa dilakukan sistem tender.

Peraturan tersebut berlaku bagi seluruh pihak asing pemegang IUP di Indonesia termasuk Freeport dan Newmount yang melakukan usaha pertambangan emas dan tembaga di tambang Grasberg, Papua, dan Batu Hijau, Nusa Tenggara Barat.

via Bloomberg : Indonesia May Ask Foreign Miners to Offer Stake to Government

Pemerintah Bantah Tekan Freeport Melalui Peraturan Baru

9:44 am in Berita, Highlight, Nasional by Ririen Restya Sagita

Tambang Grasberg di Papua

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah mengeluarkan peraturan baru tentang kepemilikan tambang di Indonesia. Menurut beberapa analis, peraturan tersebut disahkan guna menekan Freeport yang tengah menegosiasikan perpanjangan kontrak dengan pemerintah Indonesia.

Peraturan yang dikeluarkan pihak Kementerian ESDM berisi tentang kewajiban pihak asing yang memiliki Izin Usaha Pertambangan untuk menjual sebagian kepemilikan tambang kepada perusahaan domestik. Pihak asing hanya diperbolehkan memiliki 49% kepemilikan dari tambang yang sudah beroperasi selama 10 tahun.

Para analis menduga pemerintah berusaha menekan Freeport karena perusahaan tersebut memegang 90% kepemilikan dari tambang Grasberg di Papua. Sementara itu, pemerintah Indonesia hanya memiliki 10% dari tambang tempat cadangan emas terbesar di dunia dan cadangan tembaga terbesar kedua dunia tersebut.

Namun, pemerintah menampik dugaan para analis dengan menyatakan bahwa peraturan tersebut diberlakukan untuk seluruh perusahaan asing bidang pertambangan di Indonesia, bukan hanya Freeport. Tujuan dari peraturan itu hanyalah untuk memajukan usaha pertambangan domestik.

via Reuters : Indonesia says mine rules not just aimed at Freeport

Pemerintah Akan Batasi Kepemilikan Tambang oleh Pihak Asing

3:54 pm in Berita, Highlight, Nasional by Ririen Restya Sagita

Tambang Grasberg di Papua

Guna meningkatkan keuntungan domestik di bidang pertambangan, pemerintah mengeluarkan peraturan yang membatasi kepemilikan tambang oleh pihak asing.

Dengan adanya peraturan tersebut, pihak asing yang memiliki izin pertambangan harus menjual sebagian kepemilikannya hingga pihak domestik memiliki 51% bagian dari tambang yang dimaksud.

Peraturan tentang kepemilikan tambang itu terpampang pada situs milik Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral menyusul negosiasi perpanjangan kontrak antara pemerintah Indonesia dengan Freeport dan Newmount selaku perusahaan pertambangan asing terbesar di negeri ini.

Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa pemegang Izin Usaha Pertambangan dari pihak asing diwajibkan melepaskan kepemilikannya secara bertahap selama 5 tahun setelah berproduksi sehingga dalam jangka waktu 10 tahun, 51% dari pertambangan tersebut dimiliki oleh pihak domestik.

Sejak tanggal 21 Februari, peraturan tersebut telah diberlakukan, namun belum diketahui apakah peraturan hanya berlaku bagi perusahaan yang baru mengajukan permohonan IUP ataukah juga berlaku bagi perusahaan asing yang telah beroperasi.

via Reuters : Indonesia to limit foreign ownership in mines

Berlian Pink Terbesar di Australia Ditemukan

2:01 pm in Berita, Highlight, Internasional by Ririen Restya Sagita

Berlian Pink

Sebuah berlian pink langka berukuran cukup besar ditemukan di pertambangan berlian Argyle, Rio Tinto, Australia. Batu mulia seberat 12, 76 karat tersebut merupakan berlian pink terbesar yang pernah ditemukan di Australia.

Rencananya, berlian itu akan dipamerkan ke berbagai tempat di dunia seperti Hong Kong dan New York sebelum akhirnya dijual. Harga dari berlian pink yang diberi nama Argyle Jubile Pink itu diperkirakan bisa mencapai jutaan dolar.

Saat ini, rekor berlian termahal di dunia masih dipegang oleh Graff Pink sebuah berlian pink mewah berukuran 24,78 karat yang dilelang di Geneva, Swiss seharga US$46 juta atau setara dengan Rp416 milyar.

Argyle Jubile Pink tengah dibentuk dan dipoles di Perth, Australia sejak hari Selasa (21/2) kemarin. Proses pembentukan dan pemolesan berlian itu sendiri bisa memakan waktu hingga 10 hari.

Menurut juru bicara perusahaan pertambangan berlian Rio Tinto, penemuan Argyle Jubile Pink di tambang Argyle sama sekali tidak disangka-sangka. Manajer Berlian Pink Argyle, Josephine Johnson menyatakan bahwa berwarna pink cerah itu sangat langka dan mungkin tidak akan ditemukan lagi.

via BBC News : Australia’s largest rough pink diamond unearthed

Perusahaan Pertambangan Inggris Ingin Tuntut Indonesia

10:10 am in Berita, Highlight, Nasional by Ririen Restya Sagita

Peta Wilayah Indonesia

Perusahaan pertambangan asal Inggris, Churchill Mining PLC, berencana menuntut pemerintah Indonesia akibat kesulitan dan kerugian yang dialami perusahaan tersebut selama menjalankan usaha pertambangannya di Pulau Borneo.

Churchill menyatakan bahwa pihaknya telah melayangkan surat pada pemerintah Indonesia dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk meminta bantuan dan mengancam akan membawa persoalan tersebut ke Arbitrase Internasional.

Masalah bermula ketika Churchill Mining PLC ingin melakukan pertambangan batubara di Pulau Borneo dan telah mengurus segala macam perizinan yang diperlukan pada tahun 2008.

Perusahaan tersebut juga mengaku telah menghabiskan biaya hingga US$40 juga atau setara dengan Rp364 milyar dalam proyek pertambangan. Namun pada kenyataannya, pemerintah lokal selalu mengganggu jalannya usaha pertambangan tersebut dengan menyatakan bahwa surat izin Churchill tidak valid.

Masalah kian bertambah setelah ada perusahaan pertambangan lain yang mengaku memiliki izin untuk bertambang di kawasan yang sama dengan Churchill. Puncaknya, petugas di Kalimantan Timur mencabut surat izin pertambangan Churchill dengan tuduhan perusahaan tersebut telah menebang pohon secara ilegal.

Churchill mengancam bahwa jika tidak ada kebijakan pemerintah terkait masalah tersebut, pihaknya akan menuntut Indonesia ke Arbitrase Internasional yang bisa mengakibatkan tercemarnya nama Indonesia di mata investor asing.

Sign in PasarDana.com BETA
Silahkan login pada form dibawah ini. Belum memiliki akun PasarDana.com click here untuk Register!